Kamis, 13 Maret 2014

"Kita Terlalu Mengelu-elukan Jokowi"


Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, yang biasa dipanggil Jokowi, berbincang-bincang dengan sejumlah wartawan dan pegiat sepeda di kantor Redaksi Kompas.com, kawasan Palmerah, Jakarta Pusat, Jumat (28/2/2014). Jokowi menuju Kompas.com dengan menggunakan sepeda dari rumah dinasnya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Nama Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo alias Jokowi semakin melambung. Sejumlah survei menempatkannya sebagai kandidat terkuat calon presiden. Wartawan senior Harian Kompas Budiarto Shambazy meminta masyarakat tak berharap terlalu tinggi jika Jokowi menjadi presiden. Jokowi, kata dia, adalah manusia biasa yang tak bisa menyelesaikan persoalan negara dalam sekejap.

"Dulu kita mengelu-elukan SBY, tapi setelah 10 tahun, kita kecewa. Artinya, hendaknya agar bersikap realistis. Sekarang kita terlalu mengelu-elukan Jokowi," ujarnya, dalam diskusi "Dwi Tunggal Jokowi-Ahok: Akankah Segera Berakhir?", di Jakarta, Rabu (12/3/2014). .

Namun, ia menekankan, pernyataannya bukan berarti menilai Jokowi tak berprestasi selama memimpin Ibu Kota. Jokowi, kata dia, justru memberikan harapan kepada warga Jakarta dengan konsep "Jakarta Baru".

"Semua orang sepakat kalau dia bekerja, apalagi jika dibandingkan (gubernur) sebelumnya. Tapi kan kita butuh (presiden) yang lebih dari sekedar bekerja, tapi juga inspiratif, seperti Bung Karno. Jadi jangan terlalu terpukau dengan citra Jokowi," ujarnya.

Kekuatan Jokowi, menurutnya, bukan karena dia manusia super, melainkan karena ia menempatkan diri menjadi bagian dari masyarakat.

Hal senada juga dilontarkan Pendiri Relawan Jakarta Baru, Hasan Nasbi. Menurutnya, persoalan negara belum selesai setelah Jokowi menjadi presiden. Yang terpenting, katanya, gagasan seorang capres sebelum memimpin Indonesia.

"Kita harus tahu itu lebih dulu sebelum memastikan pilihan capres. Dia akan menjalankan rencana A, B, C, D itu timnya siapa? Wakilnya siapa? Cocok enggak? Menterinya siapa?. Kita enggak sampai lima menit di TPS, setelah itu yang menentukan presiden," kata Hasan.

Sumber: kompas.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar